Rindu Pohon Randu
Kupastikan rinduku
Tetap kutandu menuju pohon randu.
Yang pernah kutanam di depan rumah.
Kupupuk dengan sebulir air,
mengalir dari pelupuk mata
Takkah kau ingat ?.
Pada satu waktu yang mempesonakan
Kau duduk memaku
Bersebreangan dengan pandangan
Tempatku menatap pintu.
‘Biar kutulis namamu,
di ujung punggung randu’
katamu.
‘Kelak, aku akan menjemputmu
dari sana, tulis saja di pintu itu’
pintaku.
Sekarang, kau bilang randu itu
telah menjulang
terdiang di tiang langit.
Penuh warni warna
Tempat mereka menancap,
bendera partai-partai bangkai.
‘Biarlah,
aku tunggu hingga tercipta
presiden baru,
kain-kain itu akan kujahit.
Menutupi rinduku yang memahit’
tuturmu.
Kenapa kau biarkan warna
partai-partai bangkai itu terangkai
di dahannya yang hijau ?.
Ah, entahlah.
Aku tak peduli dengan presiden baru
Aku hanya ingin memastikan
Jika rindu ini tetap kutandu
Hingga liuk pucuk randu.
Randu dengan ribuan kapuk,
yang melapuk sebelum mampu kupeluk.



