Tentang Asmara di Pelupuk Sahara [Status Pilihan, 1-15 Nov 2009].

Indah matamu, ingatkanku tentang bintang dalam malam terang benderang. Hatiku lumpuh tersimpuh luruh. Kalah dihadapan semua kata. Dan cermin tak lagi pantulkan cahaya. Tapi, kau mampu. Cantik, semoga pagimu indah. (Tue, 17 Nov 2009 04:24:02 GMT)

Aku pernah jatuh, tapi kau tetap menatapku utuh. Sungguh, aku dalam dilema. Menggapaimu aku jauh, sementara meninggalkanmu aku peluh. Cantik, genggam hatiku penuh. Separuh hanya membuatku keruh dan terbunuh. (Mon, 16 Nov 2009 12:08:05 GMT)



Sudah lama aku merindukan hujan. Sungguh, hatiku senang kala ia datang, ketika aku berlari menghampiri, dan ia telah pergi. (Mon, 16 Nov 2009 09:14:35 GMT)

Aku menyapamu Cantik, besama sebingkah rindu membuncah. Bagai Muhammad memimpikan Khadijah. Selamat pagi cantik. Jika tengah terjaga, maukah kau kuajak temui mentari di ujung Gezira ?. (Mon, 16 Nov 2009 03:50:46 GMT)

” Bang, segera pulang. Kita harus nikah cepat, 2012 kiamat !”. ” Bah !, kiamat ya silakan, ga kiamat ya silakan, gitu aja kok repot !!. Bagaimana kalo nikah bulan depan ?”. <3 (Sun, 15 Nov 2009 09:27:33 GMT)

Dari Ethiopia, aku menuju Algeria. Dibawah terik, ditengah Sahara. Aku menemukan hidup, tentang hidup sebenarnya. Dan sejak saat itu, aku sadar. Akulah orang paling beruntung di dunia. Terima kasih Tuhan. (Sun, 15 Nov 2009 08:06:21 GMT)

Aku senang Mesir menang, tapi melihatmu bahagia, seperti aku bertambah nyawa.(Sun, 15 Nov 2009 06:49:48 GMT)

Sering kali, gelap menidurkanku dalam lelap. Ketika terjaga, aku tak tahu sedang dimana. Dan Tuhan terlalu jauh untuk aku rengkuh. (Sat, 14 Nov 2009 21:29:12 GMT)

” Akhi, bagaimana mungkin aku habiskan makanan yang kau suguhkan, sedangkan kau sendiri belum makan”. ” Ukhti, tidakkah kau tahu bahwa aku sedang makan ?, setelah dua hari puasa untuk tidak bertemu. Menatap indah wajahmu, sudah membuatku kenyang”. ” Huh. Basi tau !”. ” Hehehe”. (Sat, 14 Nov 2009 11:59:50 GMT)

……. Sesekali, coba ku tanyakan tentang bahagia laut menyimpan biru, kenapa ombaknya begitu menderu ?. Itu sederhana saja, tak perlu kau cari di buku-buku. Kau akan tahu, benci yang kau punya akan selalu kusapa dengan cinta. Dan disini, di Alexandria, aku tetap setia, menunggu uluran tangan, tanda kau katakan “iya”……….. (Sat, 14 Nov 2009 09:55:35 GMT)

Huh !, bayang wajahmu selalu saja menari-nari dipikiran, cara kau mengerlipkan mata, seperti merongrong hatiku menuju lorong-lorong kerinduan. Chantiq, jangan kau janjikan aku rindu, aku tak tahan untuk tidak bertemu. (Sat, 14 Nov 2009 02:56:01 GMT)

Mungkin memang benar, perempuan tak pernah salah dan meminta maaf adalah tugas lelaki. Huh !. Kemarin aku jatuh cinta dan hari ini patah hati, begitu seterusnya. (Fri, 13 Nov 2009 13:25:08 GMT)

Sore itu. Disana, dibawah patung Ramsis, aku dan kau berlindung dari gerimis. Cuaca seperti tak kuasa merusak suasana. Biarkan, meski mendung tampak sinis. Kau menatapku biru, penuh romantis. Dan aku terpaku, oleh senyum manismu, gadis. (Fri, 13 Nov 2009 09:06:10 GMT)

[Untuk Negeri] Maka bila negerimu dikuasai para bedebah | Usirlah mereka dengan revolusi | Bila tak mampu dengan revolusi, | Dengan demonstrasi | Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi | Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan. [Adhie Massardi] Dari Arabic Poetry (Wed, 11 Nov 2009 08:43:40 GMT)

Marichan, kau boleh saja mengumpat, menggerutu terjebak macet. Tapi asal kau tahu, macet sampai kiamat pun tak masalah bagiku, asal kau tetap disisi. (Wed, 11 Nov 2009 05:46:24 GMT)

Yang aku tahu, Tuhan memiliki cara yang berbeda dalam mendidik setiap manusia. Tapi intinya sama, agar kita pandai bersyukur. (Tue, 10 Nov 2009 17:58:57 GMT)

Aku benar-benar menikmati keasingan. Ketika jiwa sendiri, justru hati terasa semakin ramai. Ia bersuara, layaknya Tuhan Sang Penghakim. Dan malam adalah sahabat terbaik menuju keasingan. [Selamat malam Chan, cepat istirahat yah]. (Mon, 09 Nov 2009 23:33:34 GMT)

Tidak !. Ada saatnya aku akan tersenyum, ketika kau harus menangis. Itu hanya akan terjadi, jika aku mati, esok nanti. (Mon, 09 Nov 2009 19:12:32 GMT)

Jehovah menangis, the wailing wall [tembok ratapan] tempat ia berkuasa sudah tak seramai dulu. Umat manusia lebih suka menuliskan do’anya di wall Facebook. Tempat Mark Zuckerberg mendulang asa. Kasihan. (Mon, 09 Nov 2009 12:42:23 GMT)

Aku kian terhanyut, kala malam semakin larut. Menghadap Tuhan, justru wajahmu kutemukan. Ah, seharusnya tak kukatakan saja. Jika hati merindu, diamkan, biarlah akal membunuhnya. (Mon, 09 Nov 2009 03:13:34 GMT)

Dengan bahasa, aku memuja. Bersama kata, aku menguraikan rasa. Dengan bahasa dan kata, kupercaya, kita mampu bersua. (Sun, 08 Nov 2009 23:50:29 GMT)

Chan, awal mulanya aku hanya kasihan. Membimbingmu terjatuh diantara bebatuan. Lama-lama, kau menjelma menjadi yang terkasih. Akulah kekasih untuk segala hatimu, kau harus tahu !. (Sun, 08 Nov 2009 13:04:33 GMT)

Ra, sengaja kususuri tepian Gezira, siang ini. Menghimpun secercah cerah, kumpulkan jejak langkah yang terpecah. Untuk kutebar diatas Nil, merata, menyambungkan do’a. Semoga kau bahagia bersamanya. (Sun, 08 Nov 2009 10:03:58 GMT)

Cantiikkk, Kau pernah bilang merindu itu penyakit bukan ?. OK, aku setuju. Lalu, maukah kau mencarikan penawarnya untukku ?. [Penyakitku kambuh] (Sun, 08 Nov 2009 01:40:13 GMT)

Sendiri itu biasa, seperti halnya aku yang terbiasa dalam kesendirian. Selamat bermalam minggu bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan bathin. (Sat, 07 Nov 2009 14:10:44 GMT)

Dalam temaram malam, kepada wajahmu aku terbayang. Sementara dalam terang siang, ada sebongkah senyum, yang manis untuk selalu ku kenang. Huh !, waktu seperti memaksaku untuk merindu. Selamat siang Chan, aku ingin bertemu. (Sat, 07 Nov 2009 10:17:27 GMT)

Cantik, kau tahu ?. Hingga malaikat dan setanpun cemburu. Menyaksikan kita memadu kasih, mengumbar kisah tentang keluh kesah, malam itu. Can, bolehkah aku simpan sedikit saja, senyum simpul dan tawa manja yang kau berikan untukku ?. (Fri, 06 Nov 2009 09:19:01 GMT)

Chan, ada sekeping rindu dalam jerawatmu. Bolehkah aku tahu untuk siapa ?. (Wed, 04 Nov 2009 15:38:46 GMT)

Ra, jangan kau tanya mengapa. Sebab, peluru yang ku lesakkan tak pernah bertanya, untuk siapa. Jika pada hatimu, cintaku bertaut. Kau hanya butuh menahan diri. Biarkan Tuhan, sibuk mencari jawaban. (Wed, 04 Nov 2009 11:01:15 GMT)

[Curhat] Ah, terlalu mudah untuk menyimpan semua kata-katamu, Cantik. Seperti sulitnya menghafal ceramah dosen, tadi pagi. Cantik, Maukah kau menjadi dosenku ?. (Tue, 03 Nov 2009 13:23:16 GMT)

Di tepian Nil, diantara gedung tinggi menjulang. Ku taburkan segala do’a, menautkan segala asa. Aku mencintaimu Musa, Harun, Fir’aun dan Qarun. Meski tak selamanya, harus disini. Aku harus datang, seperti aku ingin pulang. (Mon, 02 Nov 2009 04:57:27 GMT)

Aku membencimu bulan, kecuali jika kau mau menemuinya di sepertiga malam terakhir, menyampaikan salam rinduku padanya. (Sun, 01 Nov 2009 20:03:02 GMT)

Chan, Gezira pernah memaksaku dihadapanmu kalah. Tentang serpihan hati yang hilang, kau tak perlu resah. Jikapun Nil tumpah ruah dan Mesir harus banjir, dihatimu jualah perahu cintaku kan berlabuh. Saat itu, kaulah yang pasti pasrah. Ensha Allah. (Tue, 17 Nov 2009 10:46:35 GMT)

~ by anismanshur on December 7, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.