Qadha Puasa Sunnah
Alhamdulillah, Wassolatu ‘Ala Rasulillah.
Empat Imam Mujtahid Mutlaq, berbeda pendapat tentang hukum qadha puasa sunnah. seperti, jika kita melaksanakan ibadah puasa sunnah kemudian membatalkannya sebelum waktu yang telah ditentukan. Imam Abdurrahman Al-Juzairi dalam bukunya Kitab Al-Fiqh ‘ Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah dalam bab Al-‘Ibadaat (Cet. Dar Shalahuddin, Cairo . Hal: 448), menjelaskan tentang qadha puasa sunnah sebagai berikut:
Imam Syafi’I dan Imam Hambali Radhia Allahu ‘Anhuma, berpendapat bahwa qadha puasa sunnah hukumnya adalah sunnah juga. Sedangkan dalam madzhab Hanafi dan Maliki hukumnya adalah wajib, tidak melakukan qadha puasa sunnah hukumnya adalah makruh tahrim (makruh yang mendekati haram).
Imam Maliki Radhia Allahu ‘Anhu berpendapat bahwa, menyelesaikan puasa sunnah hingga waktu berbuka hukumnya adalah fardhu, begitu juga jika membatalkannya dengan sengaja, maka qadha puasa sunnah tersebut hukumnya adalah fardhu. Kecuali jika diperintah oleh orang tua atau gurunya untuk membatalkan puasa demi kemaslahatan anak atau murid yang sedang berpuasa sunnah dan meng-qadha-nya adalah tidak fardhu.
Dalam buku Fiqh Al-Sunnah karya Imam Sayyid Sabiq untuk sub bab [diperbolehkannya berbuka bagi orang yang melakukan puasa sunnah. Hal: 518].
عن أم هانئ – رضي الله عنها – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها يوم الفتح. فأتى بشراب فشرب. ثم ناولنى, فقلت إنى صائمة. فقال (إن المتطوع أمير على نفسه, فإن شأت فصومى و إن شأ ت فافطرى.) رواه أحمد و البيهقى.
Dari Ummu Hani Radhia Allahu ‘Anha, pada saat terbukanya kota Makkah Rasulullah Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam menawari minuman kepada Ummu Hani. Kemudian Ummu Hani berkata “saya sedang berpuasa –sunnah-”, Rasulullah Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ibadah sunnah adalah anjuran yang dating dari diri sendiri, jika niat untuk melakukannya, maka berpuasalah. Akan tetapi jika ingin berbuka, maka berbukalah”. H.R. Imam Ahmad dan Imam Daruquthni.
عن أبى سعيد الخدرى – رضى الله عنه – صنعت لرسول الله صلى الله عليه و سلم طعاما, فأتانى هو وأصحابه, فلما وضع الطعام فقال رجل من القوم : إنى صائم. فقا ل رسول الله صلى الله عليه و سلم (دعاكم أخوكم, وتكلف لكم), ثم قال (أفطر و صم يوما إن شأت). رواه البيهقى بإسناد حسن.
Dari Abu Said Al-Khudri Radhia Allahu ‘Anhu berkata ketika saya membuatkan makanan untuk Rasulullah Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian Beliau dengan para Shahabatnya datang kepadaku, salah satu dari kami ada yang berkata bahwa saya sedang berpuasa. Rasulullah Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (biarkan teman kalian –untuk berpuasa-, sesungguhnya itu merupakan tanggung jawab dia), kemudian Beliau melanjutkan sabdanya (Berbukalah dan ganti puasamu dihari yang lain jika kamu menghendakinya) . H.R. Imam Baihaqi Rahimahu Allah, dengan sanad yang hasan.
Dari hadits diatas, para ulama ber-istinbat –mengambil produk hokum- bahwa diperbolehkannya berbuka –membatalkan- puasa bagi orang yang melakukan puasa sunnah dan disunnahkan untuk meng-qadha-nya di hari yang lain -tidak wajib-.
Perlu diketahui, dalam madzhab Hanafi fardhu dan wajib adalah berbeda. contoh fardhu, seperti sholat fardhu dan puasa ramadhan. Sedangkan wajib seperti sholat sunnah qabliyyah dan ba’diyyah. Solat fardhu yang tidak diirngi dengan sholat wajib dinilai kurang sempurna. Wajib dalam madzhab Hanafi bisa disejajarkan dengan Sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) dalam Madzhab Syafi’I.
Begitu juga dengan Makruh. Dibagi menjadi dua, makruh tanzih (makruh yang mendekati boleh, tetapi mendapatkan pahala jika kita meninggalkannya) . Contoh makruh tanzih sangat banyak, seperti halnya hokum makruh biasa dalam madzhab Imam Syafi’I Radhia Allahu ‘Anhu.
Makruh tahrim adalah hukum yang dilandasi oleh dalil yang dzanni [tidak pasti, seperti hadits Ahad, bukan qath’iy]. Jika dalilnya qat’iy [pasti] maka menjadi haram. Contoh makruh tahrim seperti melamar perempuan yang sudah dilamar oleh lelaki lain, karena hadits yang tersebut bukan hadits mutawatir, melainkan hadits ahad. Dan makruh tahrim (makruh yang mendekati haram) tidak mendapatkan syafa’at dari Rasulullah Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam, bagi orang yang melakukannya nauzdu bi Allahi min dzalik.
Ilmu agama begitu luas, setiap muslim diberi kebebasan untuk memilih dan menjalankan salah satu dari pendapat empat Imam Mujtahid Mutlaq [Imam Syafi’I, Maliki, Hambali dan Hanafi], yang menurut jumhur ulama atau diri kita sendiri sebagai pendapat yang paling rajih [tepat], asalkan kita tahu hujjah-nya agar menjadi muslim yang ittiba’ [mengikuti Imam Madzhab dengan mengetahui hujjah], bukan muslim yang taqlid [mengikuti Imam Madzhab tanpa mngetahui dalil yang digunakan untuk berhujjah]. Imam Syafi’I dan tiga Imam Madzhab yang lain berkata Idza sahha al-hadits fa huwa madzhabi [jika kalian mendapatkan hadits shahih, maka itulah madzhabku].
Wa Allahu A’lam. Baraka Allahu fi Al-Jamii’, semoga bermanfaat.



demikian adanya agama di ajarkan bukan untuk mempersulit tetapi untuk mempermudah dengan aturan main yang ada.